Project PLTD

Ada kesalahan di dalam gadget ini

PERAWATA N RUTIN TRAFO

Perawatan dan Pemantauan Kondisi Transformator

Perawatan dan Pemantauan Kondisi Transformator, kalo bahasa inggrisnya: "Transformer Condition Monitoring and Maintenance"...(kerenkan...?!! Tapi kita harus bangga pada bahasa sendiri...ya nggak?). Artikel ini untuk melengkapi artikel-artikel sebelumnya tentang transformator alias transformer alias trafo (terserah, mana yang anda pakai, kalo saya lebih suka menyebutnya Tr).



Dengan melakukan perawatan secara berkala dan pemantauan kondisi transformator pada saat beroperasi akan banyak keuntungan yang didapat, antara lain:

• Meningkatkan keandalan dari transformator tersebut.

• Memperpanjang masa pakai.

• Jika masa pakai lebih panjang, maka secara otomatis akan dapat menghemat biaya penggantian unit transformator.



Adapun langkah-langkah perawatan dari transformator, antara lain adalah:

• Pemeriksaan berkala kualitas minyak isolasi.

• Pemeriksaan/pengamatan berkala secara langsung (Visual Inspection)

• Pemeriksaan-pemeriksaan secara teliti (overhauls) yang terjadwal.





Gambar 1.Perawatan Transformator



Komponen-Komponen Utama Transformator



untuk lebih jelasnya anda dapat membaca artikel sebelumnya, "Komponen-Komponen Transformator", tapi saya tampilkan sedikit mengenai komponen utamanya saja, yaitu:

• On-load tap changer (OLTC)

• Bushing

• Insulator / penyekat

• Gasket

• Sistem saringan / filter minyak isolasi

• Peralatan proteksi;

– Valves atau katup-katup

– relay

– Alat-alat ukur dan indikator-indikator



Peta Potensi Terjadinya Gangguan didalam Transformator





Gambar 2. Peta Potensi Gangguan didalam Transformator



Pemeriksaan Kondisi Transformator Saat Beroperasi



Pada saat transformator beroperasi ada beberapa pemeriksaan dan analisa yang harus dilakukan, antara lain:



1. Pemeriksaan dan analisa minyak isolasi transformator, meliputi:

– Tegangan tembus (breakdown voltage)

– Analisa gas terlarut (dissolved gas analysis, DGA)

– Analisa minyak isolasi secara menyeluruh (sekali setiap 10 tahun)



• Pemeriksaan dan analisa kandungan gas terlarut (Dissolved gas analysis, DGA), untuk mencegah terjadinya:(partial) discharges, Kegagalan thermal (thermal faults), Deteriorasi / pemburukan kertas isolasi/laminasi.



• Pemeriksaan dan analisa minyak isolasi secara menyeluruh, meliputi: power factor (cf. Tan δ), kandungan air (water content), neutralisation number, interfacial tension, furfural analysis dan kandungan katalisator negatif (inhibitor content)



2. Pengamatan dan Pemeriksaan Langsung (Visual inspections)

– Kondisi fisik transformator secara menyeluruh.

– Alat-alat ukur, relay, saringan/filter dll.

– Pemeriksaan dengan menggunakan sinar infra-merah (infrared monitoring),

setiap 2 tahun.



Karakteristik Akibat Kegagalan Gas





Tabel 1. Karakteristik Akibat Kegagalan Gas



Rentang Waktu Pemeriksaan dan Analisa Minyak isolasi





Tabel 2. rentang waktu pemeriksaan minyak isolasi



Tindakan yang biasa dilakukan pada saat Pemeriksaan Teliti (Overhaul)



1. Perawatan dan pemeriksaan ringan (Minor overhaul), setiap 3 atau 6 tahun.

– on-load tap changers

– oil filtering dan vacuum treatment

– relays dan auxiliary devices.



2. Perawatan dan pemeriksaan teliti (Major overhaul)

– Secara teknis setidaknya 1 kali selama masa pakai.

– pembersihan, pengencangan kembali dan pengeringan.



3. Analisa kimia

– analisa kertas penyekat/laminasi (sekali setiap 10 tahun)



4. Pengujian listrik (Electrical Test) untuk peralatan;

– power transformer

– bushings

– Transformator ukur (measurement transformator)

– breaker capacitors



Pengujian listrik (electrical test) dilakukan setidaknya setiap 6 - 9 tahun. Pengujian yang dilakukan meliputi;

a. Doble measurements

b. PD-measurement

c. Frequency Responce Analysis, FRA

d. voltage tests



Penyebab Hubung Singkat didalam Transformator, antara lain:



• Gangguan hubung singkat antar lilitan karena rusaknya laminasi.

• Perubahan kandungan gas H2, CH4, CO, C2H4 dan C2H2



**)Kegagalan pada lilitan dapat diperbaiki dengan penggulungan ulang atau rewinding

Artikel Terkait

mesin-listrik

·        Animasi Generator DC dan Generator AC

·        Standarisasi Motor Listrik

·        Perubahan Reaktansi Mesin Listrik Pada Saat Terjadi Gangguan

·        Animasi Motor DC

tutorial

·        Dasar-Dasar PLC

·        Sinkronisasi

·        Pemeliharaan Switchgear

·        Hukum-Hukum Dasar Listrik

 

 

 

 

 

 

 

 

unia Listrik » Beranda » mesin-listrik | tutorial » Transformator

Transformator

Transformator/ Transformer / Trafo adalah suatu peralatan listrik yang termasuk dalam klasifikasi mesin listrik statis dan berfungsi untuk menyalurkan tenaga/daya listrik dari tegangan tinggi ke tegangan rendah atau sebaliknya, dengan frekuensi sama. Dalam pengoperasiannya, transformator-transformator tenaga pada umumnya ditanahkan pada titik netral, sesuai dengan kebutuhan untuk sistem pengamanan atau proteksi. Sebagai contoh transformator 150/70 kV ditanahkan secara langsung di sisi netral 150 kV, dan transformator 70/20 kV ditanahkan dengan tahanan di sisi netral 20 kV nya. Transformator yang telah diproduksi terlebih dahulu melalui pengujian sesuai standar yang telah ditetapkan.



Dasar dari teori transformator adalah sebagai berikut :

“Apabila ada arus listrik bolak-balik yang mengalir mengelilingi suatu inti besi maka inti besi itu akan berubah menjadi magnit dan apabila magnit tersebut dikelilingi oleh suatu belitan maka pada kedua ujung belitan tersebut akan terjadi beda tegangan mengelilingi magnit, sehingga akan timbul gaya gerak listrik (GGL)”.



Klasifikasi Transformator Tenaga



Transformator tenaga dapat di klasifikasikan menurut sistem pemasangan dan cara pendinginannya.



1. Menurut Pemasangan

• Pemasangan dalam

• Pemasangan luar



2. Menurut Pendinginan, menurut cara pendinginannya dapat dibedakan sebagai berikut:

a) Berdasarkan Fungsi dan pemakaian:

• Transformator mesin (untuk mesin-mesin listrik)

• Transformator Gardu Induk

• Transformator Distribusi



b) Berdasarkan Kapasitas dan Tegangan Kerja:

Contoh transformator 3 phasa dengan tegangan kerja di atas 1100 kV dan daya di atas 1000 MVA ditunjukkan pada Gambar 1.





Gambar 1. Contoh Transformator 3 Phasa dengan Tegangan Kerja >1100 kV dan Daya >1000 MVA.



Dalam usaha mempermudah pengawasan dalam operasi, transformator dapat dibagi menjadi: transformator besar, transformator sedang, dan transformator kecil.



Cara Kerja dan Fungsi Bagian-Bagian Transformator



Suatu transformator terdiri atas beberapa bagian, yaitu:

• Bagian utama transformator

• Peralatan Bantu

• Peralatan Proteksi

Setiap bagian tersebut memiliki fungsi masing-masing, dan untuk detailnya anda juga dapat membaca artikel mengenai komponen-komponen transformator di sini



1. Bagian utama transformator, terdiri dari:



a) Inti besi

Inti besi berfungsi untuk mempermudah jalan fluks, yang ditimbulkan oleh arus listrik yang melalui kumparan. Dibuat dari lempengan-lempengan besi tipis yang berisolasi, untuk mengurangi panas (sebagai rugi-rugi besi) yang ditimbulkan oleh arus pusar atau arus eddy (eddy current).



b) Kumparan transformator

Beberapa lilitan kawat berisolasi membentuk suatu kumparan, dan kumparan tersebut diisolasi, baik terhadap inti besi maupun terhadap kumparan lain dengan menggunakan isolasi padat seperti karton, pertinax dan lain-lain.

Pada transformator terdapat kumparan primer dan kumparan sekunder. Jika kumparan primer dihubungkan dengan tegangan/arus bolak-balik maka pada kumparan tersebut timbul fluks yang menimbulkan induksi tegangan, bila pada rangkaian sekunder ditutup (rangkaian beban) maka mengalir arus pada kumparan tersebut, sehingga kumparan ini berfungsi sebagai alat transformasi tegangan dan arus.



c) Kumparan tertier

Fungsi kumparan tertier diperlukan adalah untuk memperoleh tegangan tertier atau untuk kebutuhan lain. Untuk kedua keperluan tersebut, kumparan tertier selalu dihubungkan delta atau segitiga. Kumparan tertier sering digunakan juga untuk penyambungan peralatan bantu seperti kondensator synchrone, kapasitor shunt dan reactor shunt, namun demikian tidak semua transformator daya mempunyai kumparan tertier.



d) Minyak transformator

Sebagian besar dari transformator tenaga memiliki kumparan-kumparan yang intinya direndam dalam minyak transformator, terutama pada transformator-transformator tenaga yang berkapasitas besar, karena minyak transformator mempunyai sifat

sebagai media pemindah panas (disirkulasi) dan juga berfungsi pula sebagai isolasi (memiliki daya tegangan tembus tinggi) sehingga berfungsi sebagai media pendingin dan isolasi.



Minyak transformator harus memenuhi persyaratan, yaitu:

• kekuatan isolasi tinggi

• penyalur panas yang baik, berat jenis yang kecil, sehingga partikel-partikel dalam minyak dapat mengendap dengan cepat

• viskositas yang rendah, agar lebih mudah bersirkulasi dan memiliki kemampuan pendinginan menjadi lebih baik

• titik nyala yang tinggi dan tidak mudah menguap yang dapat menimbulkan baha

• tidak merusak bahan isolasi padat

• sifat kimia yang stabil



Minyak transformator baru harus memiliki spesifikasi seperti tampak pada Tabel 1 di bawah ini.





Tabel 1. Spesifikasi Minyak Isolasi Baru.



Untuk minyak isolasi pakai berlaku untuk transformator berkapasitas > 1 MVA atau bertegangan > 30 kV sifatnya seperti ditunjukkan pada Tabel 2.





Tabel 2. Spesifikasi Minyak Isolasi Pakai.





e) Bushing

Hubungan antara kumparan transformator ke jaringan luar melalui sebuah bushing, yaitu sebuah konduktor yang diselubungi oleh isolator, yang sekaligus berfungsi sebagai penyekat antara konduktor tersebut dengan tangki transformator.



f) Tangki dan konservator

Pada umumnya bagian-bagian dari transformator yang terendam minyak transformator berada atau (ditempatkan) di dalam tangki. Untuk menampung pemuaian pada minyak transformator, pada tangki dilengkapi dengan sebuah konservator.



Terdapat beberapa jenis tangki, diantaranya adalah:



Jenis sirip (tank corrugated) Badan tangki terbuat dari pelat baja bercanai dingin yang menjalani penekukan, pemotongan dan proses pengelasan otomatis, untuk membentuk badan tangki bersirip dengan siripnya berfungsi sebagai radiator pendingin dan alat bernapas pada saat yang sama. Tutup dan dasar tangki terbuat dari plat baja bercanai panas yang kemudian dilas sambung kepada badan tangki bersirip membentuk tangki corrugated ini. Umumnya transformator di bawah 4000 kVA dibuat dengan bentuk tangki corrugated.



Jenis tangki Conventional Beradiator, Jenis tangki terdiri dar badan tangki dan tutup yang terbuat dari mild steel plate (plat baja bercanai panas) ditekuk dan dilas untuk dibangun sesuai dimensi yang diinginkan, sedang radiator jenis panel terbuat dari pelat baja bercanai dingin (cold rolled steel sheets). Transformator ini umumnya dilengkapi dengan konservator dan digunakan untuk 25.000,00 kVA, yang ditunjukkan pada Gambar 2.





Gambar 2. Transformator Tipe Conventional Beradiator (Sumber Trafindo, 2005)



Hermatically Sealed Tank With N2 Cushined, Tipe tangki ini sama dengan jenis conventional tetapi di atas permukaan minyak terdapat gas nitrogen untuk mencegah kontak antara minyak dengan udara luar



2. Peralatan Bantu



a) Pendingin

Pada inti besi dan kumparan-kumparan akan timbul panas akibat rugi-rugi besi dan rugi-rugi tembaga. Bila panas tersebut mengakibatkan kenaikan suhu yang berlebihan, akan merusak isolasi transformator, maka untuk mengurangi adanya kenaikan suhu yang berlebihan tersebut pada transformator perlu juga dilengkapi dengan sistem pendingin yang bergungsi untuk menyalurkan panas keluar transformator. Media yang digunakan pada sistem pendingin dapat berupa

udara, gas, minyak dan air.



Sistem pengalirannya (sirkulasi) dapat dengan cara:

• Alamiah (natural)

• Tekanan/paksaan (forced).





Tabel 3. Tipe Pendinginan Transformator

keterangan: A = air (udara), O = Oil (minyak), N = Natural (alamiah), F = Forced (Paksaan / tekanan)



b) Tap Changer (perubah tap)

Tap Changer adalah perubah perbandingan transformator untuk mendapatkan tegangan operasi sekunder sesuai yang diinginkan dari tegangan jaringan/primer yang berubah-ubah. Tap changer dapat dilakukan baik dalam keadaan berbeban (on-load) atau dalam keadaan tak berbeban (off load), dan tergantung jenisnya.



c) Alat pernapasan

Karena adanya pengaruh naik turunnya beban transformator maupun suhu udara luar, maka suhu minyak akan berubah-ubah mengikuti keadaan tersebut. Bila suhu minyak tinggi, minyak akan memuai dan mendesak udara di atas permukaan minyak keluar dari dalam tangki, sebaliknya bila suhu minyak turun, minyak menyusut maka udara luar akan masuk ke dalam tangki. Kedua proses di atas disebut pernapasan transformator. Permukaan minyak transformator akan selalu bersinggungan dengan udara luar yang menurunkan nilai tegangan tembus pada minyak transformator, maka untuk mencegah hal tersebut, pada ujung pipa penghubung udara luar dilengkapi tabung berisi kristal zat hygroscopis.



d) Indikator

Untuk mengawasi selama transformator beroperasi, maka perlu adanya indicator yang dipasang pada transformator. Indikator tersebut adalah sebagai berikut:

• indikator suhu minyak

• indikator permukaan minyak

• indikator sistem pendingin

• indikator kedudukan tap, dan sebagainya.



3. Peralatan Proteksi



a) Relay Bucholz

Relay Bucholz adalah relai yang berfungsi mendeteksi dan mengamankan terhadap gangguan transformator yang menimbulkan gas.



Timbulnya gas dapat diakibatkan oleh beberapa hal, diantaranya adalah:

• Hubung singkat antar lilitan pada atau dalam phasa

• Hubung singkat antar phasa

• Hubung singkat antar phasa ke tanah

• Busur api listrik antar laminasi

• Busur api listrik karena kontak yang kurang baik.



b) Relai Tekanan Lebih

Relai ini berfungsi hampir sama seperti Relay Bucholz. Fungsinya adalah mengamankan terhadap gangguan di dalam transformator. Bedanya relai ini hanya bekerja oleh kenaikan tekanan gas yang tiba-tiba dan langsung mentripkan pemutus tenaga (PMT). Alat pengaman tekanan lebih ini berupa membran yang terbuat dari kaca, plastik, tembaga atau katup berpegas, sebagai pengaman tangki transformator terhadap kenaikan tekan gas yang timbul di dalam tangki yang akan pecah pada tekanan tertentu dan kekuatannya lebih rendah dari kekuatan tangki transformator



c) Relai Diferensial

Berfungsi mengamankan transformator terhadap gangguan di dalam transformator, antara lain adalah kejadian flash over antara kumparan dengan kumparan atau kumparan dengan tangki atau belitan dengan belitan di dalam kumparan ataupun beda kumparan.



d) Relai Arus lebih

Berfungsi mengamankan transformator jika arus yang mengalir melebihi dari nilai yang diperkenankan lewat pada transformator tersebut dan arus lebih ini dapat terjadi oleh karena beban lebih atau gangguan hubung singkat. Arus lebih ini dideteksi oleh transformator arus atau current transformator (CT).



e) Relai Tangki Tanah

Alat ini berfungsi untuk mengamankan transformator bila ada hubung singkat antara bagian yang bertegangan dengan bagian yang tidak bertegangan pada transformator.



f) Relai Hubung Tanah

Fungsi alat ini adalah untuk mengamankan transformator jika terjadi gangguan hubung singkat satu phasa ke tanah.



g) Relai Thermis

Alat ini berfungsi untuk mencegah/mengamankan transformator dari kerusakan isolasi pada kumparan, akibat adanya panas lebih yang ditimbulkan oleh arus lebih. Besaran yang diukur di dalam relai ini adalah kenaikan suhu.

Artikel Terkait

mesin-listrik

·        Animasi Generator DC dan Generator AC

·        Standarisasi Motor Listrik

·        Perubahan Reaktansi Mesin Listrik Pada Saat Terjadi Gangguan

·        Animasi Motor DC

tutorial

·        Dasar-Dasar PLC

·        Sinkronisasi

·        Pemeliharaan Switchgear

·        Hukum-Hukum Dasar Listrik





 

Dunia Listrik » Beranda » mesin-listrik | tutorial » Transformator

Transformator

Transformator/ Transformer / Trafo adalah suatu peralatan listrik yang termasuk dalam klasifikasi mesin listrik statis dan berfungsi untuk menyalurkan tenaga/daya listrik dari tegangan tinggi ke tegangan rendah atau sebaliknya, dengan frekuensi sama. Dalam pengoperasiannya, transformator-transformator tenaga pada umumnya ditanahkan pada titik netral, sesuai dengan kebutuhan untuk sistem pengamanan atau proteksi. Sebagai contoh transformator 150/70 kV ditanahkan secara langsung di sisi netral 150 kV, dan transformator 70/20 kV ditanahkan dengan tahanan di sisi netral 20 kV nya. Transformator yang telah diproduksi terlebih dahulu melalui pengujian sesuai standar yang telah ditetapkan.



Dasar dari teori transformator adalah sebagai berikut :

“Apabila ada arus listrik bolak-balik yang mengalir mengelilingi suatu inti besi maka inti besi itu akan berubah menjadi magnit dan apabila magnit tersebut dikelilingi oleh suatu belitan maka pada kedua ujung belitan tersebut akan terjadi beda tegangan mengelilingi magnit, sehingga akan timbul gaya gerak listrik (GGL)”.



Klasifikasi Transformator Tenaga



Transformator tenaga dapat di klasifikasikan menurut sistem pemasangan dan cara pendinginannya.



1. Menurut Pemasangan

• Pemasangan dalam

• Pemasangan luar



2. Menurut Pendinginan, menurut cara pendinginannya dapat dibedakan sebagai berikut:

a) Berdasarkan Fungsi dan pemakaian:

• Transformator mesin (untuk mesin-mesin listrik)

• Transformator Gardu Induk

• Transformator Distribusi



b) Berdasarkan Kapasitas dan Tegangan Kerja:

Contoh transformator 3 phasa dengan tegangan kerja di atas 1100 kV dan daya di atas 1000 MVA ditunjukkan pada Gambar 1.





Gambar 1. Contoh Transformator 3 Phasa dengan Tegangan Kerja >1100 kV dan Daya >1000 MVA.



Dalam usaha mempermudah pengawasan dalam operasi, transformator dapat dibagi menjadi: transformator besar, transformator sedang, dan transformator kecil.



Cara Kerja dan Fungsi Bagian-Bagian Transformator



Suatu transformator terdiri atas beberapa bagian, yaitu:

• Bagian utama transformator

• Peralatan Bantu

• Peralatan Proteksi

Setiap bagian tersebut memiliki fungsi masing-masing, dan untuk detailnya anda juga dapat membaca artikel mengenai komponen-komponen transformator di sini



1. Bagian utama transformator, terdiri dari:



a) Inti besi

Inti besi berfungsi untuk mempermudah jalan fluks, yang ditimbulkan oleh arus listrik yang melalui kumparan. Dibuat dari lempengan-lempengan besi tipis yang berisolasi, untuk mengurangi panas (sebagai rugi-rugi besi) yang ditimbulkan oleh arus pusar atau arus eddy (eddy current).



b) Kumparan transformator

Beberapa lilitan kawat berisolasi membentuk suatu kumparan, dan kumparan tersebut diisolasi, baik terhadap inti besi maupun terhadap kumparan lain dengan menggunakan isolasi padat seperti karton, pertinax dan lain-lain.

Pada transformator terdapat kumparan primer dan kumparan sekunder. Jika kumparan primer dihubungkan dengan tegangan/arus bolak-balik maka pada kumparan tersebut timbul fluks yang menimbulkan induksi tegangan, bila pada rangkaian sekunder ditutup (rangkaian beban) maka mengalir arus pada kumparan tersebut, sehingga kumparan ini berfungsi sebagai alat transformasi tegangan dan arus.



c) Kumparan tertier

Fungsi kumparan tertier diperlukan adalah untuk memperoleh tegangan tertier atau untuk kebutuhan lain. Untuk kedua keperluan tersebut, kumparan tertier selalu dihubungkan delta atau segitiga. Kumparan tertier sering digunakan juga untuk penyambungan peralatan bantu seperti kondensator synchrone, kapasitor shunt dan reactor shunt, namun demikian tidak semua transformator daya mempunyai kumparan tertier.



d) Minyak transformator

Sebagian besar dari transformator tenaga memiliki kumparan-kumparan yang intinya direndam dalam minyak transformator, terutama pada transformator-transformator tenaga yang berkapasitas besar, karena minyak transformator mempunyai sifat

sebagai media pemindah panas (disirkulasi) dan juga berfungsi pula sebagai isolasi (memiliki daya tegangan tembus tinggi) sehingga berfungsi sebagai media pendingin dan isolasi.



Minyak transformator harus memenuhi persyaratan, yaitu:

• kekuatan isolasi tinggi

• penyalur panas yang baik, berat jenis yang kecil, sehingga partikel-partikel dalam minyak dapat mengendap dengan cepat

• viskositas yang rendah, agar lebih mudah bersirkulasi dan memiliki kemampuan pendinginan menjadi lebih baik

• titik nyala yang tinggi dan tidak mudah menguap yang dapat menimbulkan baha

• tidak merusak bahan isolasi padat

• sifat kimia yang stabil



Minyak transformator baru harus memiliki spesifikasi seperti tampak pada Tabel 1 di bawah ini.





Tabel 1. Spesifikasi Minyak Isolasi Baru.



Untuk minyak isolasi pakai berlaku untuk transformator berkapasitas > 1 MVA atau bertegangan > 30 kV sifatnya seperti ditunjukkan pada Tabel 2.





Tabel 2. Spesifikasi Minyak Isolasi Pakai.





e) Bushing

Hubungan antara kumparan transformator ke jaringan luar melalui sebuah bushing, yaitu sebuah konduktor yang diselubungi oleh isolator, yang sekaligus berfungsi sebagai penyekat antara konduktor tersebut dengan tangki transformator.



f) Tangki dan konservator

Pada umumnya bagian-bagian dari transformator yang terendam minyak transformator berada atau (ditempatkan) di dalam tangki. Untuk menampung pemuaian pada minyak transformator, pada tangki dilengkapi dengan sebuah konservator.



Terdapat beberapa jenis tangki, diantaranya adalah:



Jenis sirip (tank corrugated) Badan tangki terbuat dari pelat baja bercanai dingin yang menjalani penekukan, pemotongan dan proses pengelasan otomatis, untuk membentuk badan tangki bersirip dengan siripnya berfungsi sebagai radiator pendingin dan alat bernapas pada saat yang sama. Tutup dan dasar tangki terbuat dari plat baja bercanai panas yang kemudian dilas sambung kepada badan tangki bersirip membentuk tangki corrugated ini. Umumnya transformator di bawah 4000 kVA dibuat dengan bentuk tangki corrugated.



Jenis tangki Conventional Beradiator, Jenis tangki terdiri dar badan tangki dan tutup yang terbuat dari mild steel plate (plat baja bercanai panas) ditekuk dan dilas untuk dibangun sesuai dimensi yang diinginkan, sedang radiator jenis panel terbuat dari pelat baja bercanai dingin (cold rolled steel sheets). Transformator ini umumnya dilengkapi dengan konservator dan digunakan untuk 25.000,00 kVA, yang ditunjukkan pada Gambar 2.





Gambar 2. Transformator Tipe Conventional Beradiator (Sumber Trafindo, 2005)



Hermatically Sealed Tank With N2 Cushined, Tipe tangki ini sama dengan jenis conventional tetapi di atas permukaan minyak terdapat gas nitrogen untuk mencegah kontak antara minyak dengan udara luar



2. Peralatan Bantu



a) Pendingin

Pada inti besi dan kumparan-kumparan akan timbul panas akibat rugi-rugi besi dan rugi-rugi tembaga. Bila panas tersebut mengakibatkan kenaikan suhu yang berlebihan, akan merusak isolasi transformator, maka untuk mengurangi adanya kenaikan suhu yang berlebihan tersebut pada transformator perlu juga dilengkapi dengan sistem pendingin yang bergungsi untuk menyalurkan panas keluar transformator. Media yang digunakan pada sistem pendingin dapat berupa

udara, gas, minyak dan air.



Sistem pengalirannya (sirkulasi) dapat dengan cara:

• Alamiah (natural)

• Tekanan/paksaan (forced).





Tabel 3. Tipe Pendinginan Transformator

keterangan: A = air (udara), O = Oil (minyak), N = Natural (alamiah), F = Forced (Paksaan / tekanan)



b) Tap Changer (perubah tap)

Tap Changer adalah perubah perbandingan transformator untuk mendapatkan tegangan operasi sekunder sesuai yang diinginkan dari tegangan jaringan/primer yang berubah-ubah. Tap changer dapat dilakukan baik dalam keadaan berbeban (on-load) atau dalam keadaan tak berbeban (off load), dan tergantung jenisnya.



c) Alat pernapasan

Karena adanya pengaruh naik turunnya beban transformator maupun suhu udara luar, maka suhu minyak akan berubah-ubah mengikuti keadaan tersebut. Bila suhu minyak tinggi, minyak akan memuai dan mendesak udara di atas permukaan minyak keluar dari dalam tangki, sebaliknya bila suhu minyak turun, minyak menyusut maka udara luar akan masuk ke dalam tangki. Kedua proses di atas disebut pernapasan transformator. Permukaan minyak transformator akan selalu bersinggungan dengan udara luar yang menurunkan nilai tegangan tembus pada minyak transformator, maka untuk mencegah hal tersebut, pada ujung pipa penghubung udara luar dilengkapi tabung berisi kristal zat hygroscopis.



d) Indikator

Untuk mengawasi selama transformator beroperasi, maka perlu adanya indicator yang dipasang pada transformator. Indikator tersebut adalah sebagai berikut:

• indikator suhu minyak

• indikator permukaan minyak

• indikator sistem pendingin

• indikator kedudukan tap, dan sebagainya.



3. Peralatan Proteksi



a) Relay Bucholz

Relay Bucholz adalah relai yang berfungsi mendeteksi dan mengamankan terhadap gangguan transformator yang menimbulkan gas.



Timbulnya gas dapat diakibatkan oleh beberapa hal, diantaranya adalah:

• Hubung singkat antar lilitan pada atau dalam phasa

• Hubung singkat antar phasa

• Hubung singkat antar phasa ke tanah

• Busur api listrik antar laminasi

• Busur api listrik karena kontak yang kurang baik.



b) Relai Tekanan Lebih

Relai ini berfungsi hampir sama seperti Relay Bucholz. Fungsinya adalah mengamankan terhadap gangguan di dalam transformator. Bedanya relai ini hanya bekerja oleh kenaikan tekanan gas yang tiba-tiba dan langsung mentripkan pemutus tenaga (PMT). Alat pengaman tekanan lebih ini berupa membran yang terbuat dari kaca, plastik, tembaga atau katup berpegas, sebagai pengaman tangki transformator terhadap kenaikan tekan gas yang timbul di dalam tangki yang akan pecah pada tekanan tertentu dan kekuatannya lebih rendah dari kekuatan tangki transformator



c) Relai Diferensial

Berfungsi mengamankan transformator terhadap gangguan di dalam transformator, antara lain adalah kejadian flash over antara kumparan dengan kumparan atau kumparan dengan tangki atau belitan dengan belitan di dalam kumparan ataupun beda kumparan.



d) Relai Arus lebih

Berfungsi mengamankan transformator jika arus yang mengalir melebihi dari nilai yang diperkenankan lewat pada transformator tersebut dan arus lebih ini dapat terjadi oleh karena beban lebih atau gangguan hubung singkat. Arus lebih ini dideteksi oleh transformator arus atau current transformator (CT).



e) Relai Tangki Tanah

Alat ini berfungsi untuk mengamankan transformator bila ada hubung singkat antara bagian yang bertegangan dengan bagian yang tidak bertegangan pada transformator.



f) Relai Hubung Tanah

Fungsi alat ini adalah untuk mengamankan transformator jika terjadi gangguan hubung singkat satu phasa ke tanah.



g) Relai Thermis

Alat ini berfungsi untuk mencegah/mengamankan transformator dari kerusakan isolasi pada kumparan, akibat adanya panas lebih yang ditimbulkan oleh arus lebih. Besaran yang diukur di dalam relai ini adalah kenaikan suhu.

Artikel Terkait

mesin-listrik

·        Animasi Generator DC dan Generator AC

·        Standarisasi Motor Listrik

·        Perubahan Reaktansi Mesin Listrik Pada Saat Terjadi Gangguan

·        Animasi Motor DC

tutorial

·        Dasar-Dasar PLC

·        Sinkronisasi

·        Pemeliharaan Switchgear

·        Hukum-Hukum Dasar Listrik





 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PERHITUNGAN NILAI KAPASITOR

PENGHEMATAN LISTRIK

 

Peralatan beban.

Adapun peralatan penunjang menggunakan serangkaian beban listrik berupa 5 lampu TL 15W, 2 lampu pijar 100W dan motor listrik 150W. Beban tersebut digunakan untuk mensimulasikan penghematan daya dengan memantau perubahan arus untuk perbaikan faktor daya setelah adanya beban induktansi.

Perencanaan kapasitor.

Kapasitor adalah komponen yang hanya dapat menyimpan dan memberikan energi yang terbatas yaitu sesuai dengan kapasitasnya, pada dasarnya kapasitor terdiri atas dua keping sejajar yang dipisahkan oleh medium dielektrik. Kapasitor pada sistem daya listrik menimbulkan daya reaktif untuk memperbaiki tegangan dan faktor daya, karenanya menambah kapasitor sistem akan mengurangi kerugian. Dalam kapasitor seri daya reaktif sebanding dengan kuadrat arus beban, sedang pada kapasitor paralel sebanding dengan kuadrat tegangan. Pemasangan peralatan kapasitor seri dan paralel pada jaringan distribusi mengakibatkan losses akibat aliran daya reaktif pada saluran dapat dikurangi sehingga kebutuhan arus menurun dan tegangan mengalami kenaikan sehingga kapasitas sistem bertambah. Kapasitor seri tidak digunakan secara luas dalam saluran distribusi, karena adanya berbagai permasalahan resonansi distribusi dalam transformator.

Manfaat penggunaan kapasitor paralel:

1.    mengurangi kerugian

2.    Memperbaiki kondisi tegangan

3.    Mempertinggi kapasitas pembebanan jaringan

Untuk menghitung besarnya nilai kapasitor menggunakan rumus :

C = Qc/-V2ω

Dimana :

Qc = Daya reaktif kapasitor (Var)

V = Tegangan (Volt)

ω = 2πf

Contoh

Satu buah TL dengan daya = 15 W, tegangan = 220 V, Faktor daya = 0,35 Maka :

P = V.I.Cos θ

I = P/V.Cos θ = 15/220x0,35 = 15/77 = 0,1948 A » 194,8 mA

Konsumsi yang dibutuhkan secara teori apabila Cos θ nya 0,9 adalah :

I = P/V.Cos θ = 15/220x0,9 = 0,0757 A » 75,7 mA

Berapa % penghematan :

194,8 – 75,7 = 119,05 » ±61%

Cara mencari nilai kapasitor :

Cos θ1 = 0,35 » θ1 = Cos-1 x 0,35 = 69,50

Cos θ2 = 0,9 » θ2 = Cos-1 x 0,9 = 25,840

Daya Nyata P1 = 15W

Daya Semu S1 = V.I = 42,856 VA

S1 = P/Cos θ = 15/0,35 = 42,857 VA

Daya Reaktif Q1 = S.Sin θ

= 42,857.Sin69,5

= 40,143 VAR

P2 = P1 = 15 W

S2 = V.I = 220x75,75Ma = 16,665VA

Q2 = S.Sin θ

= 16,665.Sin 25,84

= 7.26 VAR

Daya reaktif yang harus dihilangkan :

ΔQ = Q2 – Q1

= 7,26 – 40,143 = - 32,883 VAR

Jadi kapasitor yang digunakan untuk mendapatkan sudut (Phi) = 1 adalah :

C = Qc/-V2ω = - 32,882/2202x314 = 32,882/15197600 = 2,2 μF

Jadi untuk penghematan dengan beban diatas setelah dilakukan perhitungan kapasitor yang harus dipasang sebesar = 2,2 μF

Diposkan oleh MUSTAFA di

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PERHITUNGAN NILAI KAPASITOR

PENGHEMATAN LISTRIK

 

Peralatan beban.

Adapun peralatan penunjang menggunakan serangkaian beban listrik berupa 5 lampu TL 15W, 2 lampu pijar 100W dan motor listrik 150W. Beban tersebut digunakan untuk mensimulasikan penghematan daya dengan memantau perubahan arus untuk perbaikan faktor daya setelah adanya beban induktansi.

Perencanaan kapasitor.

Kapasitor adalah komponen yang hanya dapat menyimpan dan memberikan energi yang terbatas yaitu sesuai dengan kapasitasnya, pada dasarnya kapasitor terdiri atas dua keping sejajar yang dipisahkan oleh medium dielektrik. Kapasitor pada sistem daya listrik menimbulkan daya reaktif untuk memperbaiki tegangan dan faktor daya, karenanya menambah kapasitor sistem akan mengurangi kerugian. Dalam kapasitor seri daya reaktif sebanding dengan kuadrat arus beban, sedang pada kapasitor paralel sebanding dengan kuadrat tegangan. Pemasangan peralatan kapasitor seri dan paralel pada jaringan distribusi mengakibatkan losses akibat aliran daya reaktif pada saluran dapat dikurangi sehingga kebutuhan arus menurun dan tegangan mengalami kenaikan sehingga kapasitas sistem bertambah. Kapasitor seri tidak digunakan secara luas dalam saluran distribusi, karena adanya berbagai permasalahan resonansi distribusi dalam transformator.

Manfaat penggunaan kapasitor paralel:

1.    mengurangi kerugian

2.    Memperbaiki kondisi tegangan

3.    Mempertinggi kapasitas pembebanan jaringan

Untuk menghitung besarnya nilai kapasitor menggunakan rumus :

C = Qc/-V2ω

Dimana :

Qc = Daya reaktif kapasitor (Var)

V = Tegangan (Volt)

ω = 2πf

Contoh

Satu buah TL dengan daya = 15 W, tegangan = 220 V, Faktor daya = 0,35 Maka :

P = V.I.Cos θ

I = P/V.Cos θ = 15/220x0,35 = 15/77 = 0,1948 A » 194,8 mA

Konsumsi yang dibutuhkan secara teori apabila Cos θ nya 0,9 adalah :

I = P/V.Cos θ = 15/220x0,9 = 0,0757 A » 75,7 mA

Berapa % penghematan :

194,8 – 75,7 = 119,05 » ±61%

Cara mencari nilai kapasitor :

Cos θ1 = 0,35 » θ1 = Cos-1 x 0,35 = 69,50

Cos θ2 = 0,9 » θ2 = Cos-1 x 0,9 = 25,840

Daya Nyata P1 = 15W

Daya Semu S1 = V.I = 42,856 VA

S1 = P/Cos θ = 15/0,35 = 42,857 VA

Daya Reaktif Q1 = S.Sin θ

= 42,857.Sin69,5

= 40,143 VAR

P2 = P1 = 15 W

S2 = V.I = 220x75,75Ma = 16,665VA

Q2 = S.Sin θ

= 16,665.Sin 25,84

= 7.26 VAR

Daya reaktif yang harus dihilangkan :

ΔQ = Q2 – Q1

= 7,26 – 40,143 = - 32,883 VAR

Jadi kapasitor yang digunakan untuk mendapatkan sudut (Phi) = 1 adalah :

C = Qc/-V2ω = - 32,882/2202x314 = 32,882/15197600 = 2,2 μF

Jadi untuk penghematan dengan beban diatas setelah dilakukan perhitungan kapasitor yang harus dipasang sebesar = 2,2 μF

Diposkan oleh MUSTAFA di

 

 

 

 

 

 

 

 

 

GUIDE TO CHECK INSULATION RESISTANCE TRANSORMER

PETUNJUK MELAKUKAN TEST TAHANAN ISOLASI TRAFO

1. Step 1 /Langkah 1

1.1. Make sure that battery power of insulation resistance test is available and working

properly.

Pastikan bahwa batere alat tahanan isolasi bekerja normal.

Photo:

2. Check function / Cek fungsi alat

2.1. Test of each lead connector by shorting them. The test set should show zero reading.

Cek dengan menghubungsingkatkan ujung konektor alat test dan tekan start/test, alat harus

menunjukkan angka nol.

Photo:

3. Primary to ground test

Test primary bushing to ground by 1000/5000 VDC.

Lakukan test megger 1000/5000 VDC antara primer dan ground.

Photo:

\

4. Secondary to ground test

Test secondary to ground by 1000 VDC or 500 VDC. For 400 V rated voltage never use 5000 VDC.

Lakukan test megger 1000/500 VDC antara sekunder dan ground. Untuk tegangan sekunder 400

V jangan memakai 5000 VDC megger.

Photo:

5. Primary to secondary test

Test primary to secondary by 1000/5000 VDC.

Lakukan test primer terhadap sekunder dengan 1000/5000 VDC.

Photo:

Note: The humidity and dust at surface of bushing may cause lower reading of insulation

resistance. Kindly clean appropriately, use alcohol when needed.

Kelembaban dan pengotoran pada permukaan bushing bisa menyebabkan pembacaan yang

rendah, untuk itu disarankan membersihkan dengan kain bersih atau alcohol bila perlu.

Minimum rekomendasi angka/recommended value:

1. Rated voltage 20000V : Min 675 Mohm

2. Rated voltage below 1000 V: 40 Mohm.

If you have any queries, please contact Lintas Tomini Pratama:

Head office: PT. LINTAS TOMINI PRATAMA

TATA SAPUTRA

+6221-93698789

+6221-65865823/30

 

 

 

 

 

 

 


Kirimkan Penawaran Ke kami


Your Name
Your Email Address
Subject
Message
Image Verification
captcha
Please enter the text from the image:
[ Refresh Image ] [ What's This? ]

Powered byEMF PHP Forms